Laskar Tionghoa Sekutu Pangeran Sambernyawa

0

maspolin.com-PANGERAN Sambernyawa dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh pemerintah Republik Indonesia pada 1988. Menghadapi VOC, ia bersekutu dengan Laskar Tionghoa.

Raden Mas Said alias Suryokusumo alias Pangeran Prangwedana alias Pangeran Sambernyawa adalah Mangkunegara I. Wafat pada 1795 dimakamkan di Gunung Mangadeg, Karanganyar, Jawa Tengah.

Pertempuran Pertama

Suryokusumo yang anti-VOC bergerak bersama 1200 prajurit Jawa dan Tionghoa. Setiba di Demak, mereka bergabung dengan Laskar Tionghoa pimpinan Singseh.

Pasukan besar itu berhadapan dengan pasukan Kompeni di Welahan–terletak di kawasan segitiga pelayaran antara Jepara, Demak dan Semarang.

Di Welahan dan sekitarnya ada pula Laskar Tionghoa yang jumlahnya sekira 600 orang. Kebanyakan pasukan berkuda dan infanteri bersenjatakan tombak dan bedil.

Dengan demikian, pasukan gabungan Jawa-Tionghoa yang akan memerangi tentara VOC itu jumlahnya sekira 4000 orang.

Kapten Geritt Mom tak mengira ada pasukan sebesar itu mengepung. Mulanya 800 pasukan Tionghoa maju memancing pasukan VOC kelar dari sarangnya. Menghadapi itu, Kapten Mom mengerahkan Laskar Kraeng Tanete untuk menghadang.

Mereka terpancing, saat mengejar Laskar Tionghoa itu, mereka tiba-tiba diserang oleh gabungan pasukan Jawa-Tionghoa yang jumlahnya ribuan.

“Kraeng Tanete bersama orang-orangnya mengadakan perlawan sengit. Mereka kebingungan mencari bantuan,” tulis Willem Remmelink dalam Perang Cina dan Runtuhnya Negara Jawa 1725-1743.

Kapten Mom mengerahkan sisa pasukannya. Berkat tembakan gencar artileri kompeni, pasukan Suryokusumo pun berhasil dipukul mundur.

Menurut catatan Kompeni, Palagan Welahan adalah kemunculan pertama Suryokusumo dalam perang melawan VOC. Hari itu, almanak bertanggal 24 Agustus 1742. Usianya 17 tahun. Sang Pangeran lahir di Kartasura, 7 April 1725.

Pangeran Sambernyawa memetik pelajaran dari pertempuran pertamanya. Laskar Tionghoa bertempur secara frontal, sehingga jadi bulan-bulanan musuh. Itulah kenapa pasukannya yang besar dapat dipukul mundur oleh pasukan kecil VOC.

“Belakangan ia selalu menggunakan taktik gerilya,” tulis Daradjadi dalam Geger Pacinan 170-1743–Persekutuan Tionghoa-Jawa Melawan VOC.

Putra kedua Sunan Amangkurat IV (Pakubuwana I) itu pun kemudian dijuluki Pangeran Sambernyawa oleh Nicolaas Hartingh (pejabat VOC), karena selalu membawa kematian bagi musuh-musuhnya.

Pembantaian Cina 1740

Pergolakan yang melibatkan Pangeran Sambernyawa tersebut merupakan bagian dari Perang Jawa yang digerakkan Kapiten Sepanjang dan Sunan Kuning. Disebut Perang Jawa, karena perang selama 1740-1743 itu terjadi di sepanjang Pulau Jawa.

Titik apinya bermula ketika orang Tionghoa dibantai VOC di Batavia pada 1740. Karena dampak penindasan VOC terhadap rakyat di Jawa sudah laksana rumput kering, api pun dengan mudah menyambar dan kobarannya meluas.

Dene Kompeni anggone ono tanah Jawa, Suwito ngupaya kauntungan, sapa kang unggul ya dipanggul, sapa kang kalah dijarah.

Begitu tertoreh dalam Babad Mangkunegara I atau lebih dikenal Babad Panambangan.

Lebih kurang artinya, “adapun keberadaan Kompeni di Tanah Jawa semata-mata mengabdi untuk mencari keuntungan. Dengan demikian siapa yang unggul akan dipikul, siapa yang kalah akan dijarah.”

Pendek kisah, pergolakan tersebut mengakibatkan hancurnya Keraton Kartasura yang hingga kini tak pernah dibangun lagi. Reruntuhannya masih dapat dilihat di Kecamatan Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Dalam perang itu, Pakubuwana III ada di pihak VOC. Pangeran Sambernyawa seolah sendirian setelah sekutunya Mangkubumi I (Sultan Hamengkubuwana I) “dijinakkan” VOC melalui Perjanjian Giyanti.

Tak ada pilihan lain. Pangeran Sambernyawa meletakkan senjata. Ia berunding dengan Sunan Pakubuwono III, 17 Maret 1757. Dalam perundingan yang disaksikan wakil dari Kompeni di Kali Cacing, Sala Tiga, dicapai ksesepakatan:

Pangeran Sambernyawa diberi hak untuk memerintah sebagian wilayah Mataram. Meliputi Wonogiri dan Karanganyar. Dengan gelar Mangkunegara I dia diberi hak untuk mendirikan pusat pemerintahan di Kota Surakarta.

Untuk itu, didirikanlah Istana sebagai pusat pemerintahannya. Istana itu kini masih ada. Dikenal dengan sebutan Puro Mangkunegaran.

sumber:JPNN

Bagikan.

Tentang penulis

Tinggalkan Balasan