Tinutu’an, Bubur Fenomenal dari Sulawesi Utara

0

maspolin.com, 25 Okotber 2016

Tinutuan atau terkenal dengan sebutan Bubur Manado, merupakan makanan khas dari Sulawesi Utara yang sudah mendunia, Tinutu’an juga dalam keseharian dimanapun warga asal Sulawesi Utara atau siapapun yang pernah datang berkunjung ke Sulawesi Utara, sering dijadikan sebagai menu kuliner utama dalam ajang-ajang pertemuan baik formal maupun non-formal dan bahkan menjadi makanan pergaulan bagi komunitas-komunitas maupun kelompok-kelompok masyarakat, sehingga tak mengherankan jika Tinutu’an atau nama populer bubur manado sangat terkenal dan begitu familiar di hati dan telinga masyarakat Indonesia.

dari segi asal-usul tak banyak yang mengetahui secara detail siapa penciptanya dan dimana pertama kali menu Tinutu’an dibuat dan disajikan, akan tetapi berdasarkan cerita dari mulut ke mulut dan turun temurun dari orang-orang tua Tinutu’an atau bubur manado sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu masih sejak zaman penjajahan Belanda,

menurut cerita orang-orang tua, pada zaman dahulu di masa penjajahan Belanda, kondisi ekonomi penduduk sangat miskin, sehingga mereka kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Akhirnya dengan pertimbangan ekonomi dan sedikit tambahan unsur kreatifitas, masyarakat pada jaman itu masyarakat di sulawesi utara mulai memanfaatkan bahan makanan yang bisa mereka peroleh di pekarangan rumah atau di kebun, seperti labu, ubi, daun pepaya, kangkung, jagung, gedi dan dengan mencampurnya bersama sedikit nasi, mereka memasak semua bahan makanan itu secara bersamaan. Dan terciptalah bubur dengan berbagai lauk pauk sayur mayur didalamnya, dan se antero masyarakat sulawesi utara mengenalnya dengan nama Tinutu’an, kemudian terkait mengapa Tinutuan lebih populer dengan Istilah Bubur Manado, karena setelah masa kemerdekaan RI wilayah Sulawesi Utara selanjutnya ditetapkan sebagai wilayah Provinsi dengan Ibu Kota Manado, maka sejak saat itu seluruh pusat urusan masyarakat Sulawesi Utara atau siapapun yang datang dari luar Sulawesi Utara, minimal harus mengenal dan mengetahui kota Manado dan pada waktu itu masyarakat Kota Manado sebagian besar mengkonsumsi Tinutuan serta sering menyajikan bubur Fenomenal ini kepada tamu-tamu yang datang berkunjung ke Manado dan atau wilayah Sulawesi Utara lainnya, sehingga tak mengherankan Tinutu’an pada akhirnya lebih populer dan mendunia dengan nama “Bubur Manado”. Lepas dari benar tidaknya cerita dari mulut ke mulut ini, satu hal yang saya pikir berguna adalah betapa mudahnya kita membuat sebuah masakan sehat yang sederhana namun penuh gizi.

Tinutuan atau Bubur Manado itu sendiri mencapai masa populernya di rentang tahun 1960-an sampai dengan saat ini, bahkan Bubur Manado/Tinutu’an dipakai menjadi motto Kota Manado sejak kepemimpinan Walikota Jimmy Rimba Rogi dan Wakil Walikota Abdi Wijaya Buchari periode 2005-2010. Bahkan saat itu Pemerintah Kota Manado melalui Dinas Pariwisata, menjadikan kawasan Wakeke/kawasan yang berada di pusat kota manado, Kecamatan Wenang, sebagai lokasi Wisata Kuliner dengan menu andalan Tinutu’an atau Bubur Manado.

Tinutuan atau Bubur Manado merupakan campuran berbagai macam sayuran yang tidak mengandung daging, sehingga makanan ini bisa menjadi makanan pergaulan antar kelompok masyarakat di Manado. Tinutuan biasanya disajikan untuk sarapan pagi beserta berbagai pelengkap hidangan sarapan lainnya.

Bahan-bahan Menu Tinutuan / Bubur Manado

Bahan pembuatan tinutuan sederhana. Tinutuan merupakan campuran dari berbagai macam sayuran yaitu labu kuning yang juga disebut sambiki, beras, singkong, bayam, kangkung, daun gedi,jagung,kemangi dan waktu yang paling tepat untuk disajikan biasanya di saat sarapan pagi. Tinutuan dapat disajikan dengan ikan asin serta berbagai macam pelengkap hidangan seperti yang terlihat pada gambar.

Tinutuan, atau sebutan populernya Bubur Manado, akan lebih nikmat lagi jika disajikan dengan perkedel ikan nike, sambal ikan roa (rica roa, dabu-dabu Ikan roa), ikan cakalang fufu atau tuna asap, perkedel jagung. Tinutuan juga bisa disajikan dicampur dengan mie atau dengan sup kacang merah yang disebut kacang brenebon. ada juga yang punya selera lain yang tak kalah keren dan nikmat yakni Tinutuan di campur dengan Mie Tradisional, (Mie yang dibuat langsung oleh masyarakat bukan hasil mesin pabrik mie)

ada juga yang tak kalah ekstrim jika memiliki selera yang lebih fenomenal, Tinutu’an / Bubur Manado juga dapat dicampur dengan sup kacang merah yang disebut kacang brenebon. dan ditambahkan dengan tetelan sapi, yang konon dipercaya orang yang memakannya dapat menambah tenaga ekstra untuk bekerja khususnya pekerjaan-pekerjaan lapangan yang membutuhkan tenaga ekstra.

Tinutuan atau lebih populer dengan sebutan Bubur Manado, memang adalah bubur fenomenal yang sudah mendunia, para pelancong-pelancong baik dari dalam negeri maupun dari Luar Negeri yang datang berkunjung ke Sulawesi Utara rata-rata pernah mencicipi dan merasakan nikmatnya Tinutua’an/ bubur Manado.

Seperti yang diungkapkan secara serempak oleh Stanley Sumampouw dan Andre K. Lantang warga asal Sulawesi Utara yang sudah berpuluh-puluh tahun menetap di Jakarta, dan Noldy Sumampouw yang sudah lama menetap di Kota Pontianak, Tinutu’an merupakan Kuliner Asal Sulawesi Utara yang sudah menjadi menu kuliner nasional, Tinutu’an ibarat mewakili wajah Daerah Sulawesi Utara kampung halaman tanah Toar Lumimuut dan Manado dimana saja berada, serta bagi sesama warga asal Sulawesi Utara terutama yang sudah merantau dan lama menetap di luar Sulawesi Utara, menikmati masakan Tinutu’an atau Bubur Manado ibarat makan sambil mengenang kampung halaman Bumi Nyiur Melambai, Tanah Toar Lumimuut yang selalu melekat di hati.

Tinutuan / Bubur Manado juga menjadi sangat fenomenal saat dijadikan sebagai menu dan masakan utama jika ada acara reuni sesama warga sulawesi Utara ataupun perhelatan hajat perkumpulan masyarakat asal Sulawesi Utara baik dalam negeri maupun di luar negeri, baik yang berada di Eropa, Amerika, Jepang dan China (Kerukunan Keluarga Kawanua se-dunia), sehingga siapapun yang turut melebur dalam acara-acara tersebut akan dapat merasakan betapa nikmat dan fenomenalnya Tinutu’an alias Bubur Manado.(FDM)

images tinutuan 11311169_492178167604183_1536399605_n

Bagikan.

Tentang penulis

Imam Nurcahyo

Jurnalis dan pengelola media lokal di Bojonegoro

Tinggalkan Balasan